Insan, Rasa nan Fana
Manisnya aroma udara mengiringi merdunya aliran Sungai seraya berkata "akan ku dekap sang derasnya". Ku coba membaca setiap tinggi rendahnya gelombang asmara yang ada, berharap ada makna yang sama, sama seperti dahulu ketika derasnya menjadi aduan dikala rindu.
Percikan api asama pernah membara dimasanya, bahkan tak sorangpun yg bisa mengerti betapa hangatnya dia, dan bahkan sang hujan pun turun dengan gagahnya seraya berkata "akan ku redupkan terangnya", namun karena cintalah kita percaya. Berjanji dan percaya akan bias kehangatannya terus terasa hangat, dan semakin hangat.
Hingga kini Lidah api itu pun mulai terasa dingin oleh cengkraman masa, dan bahkan terasa lebih dingin, sedingin belaian embun yg seakan-akan berubah menjadi pedang yg siap mencabik-cabik korbannya. "Tenanglah" ucapku kepadanya, "kita masih memiliki tameng cinta yang berdiri tegak dan kokoh didepan sana". "Ma'af", "Lagi-lagi aku berjanji kepadamu" ucapku sambil mengusap lembut kepalanya.
Tapi apalah daya, kini kita dikalahkan oleh ruang masa yg tak lagi sama. Masa yg bersenjatakan tanda tanya, memakan habis tameng yg dahulu pernah aku janjikan untuk nya. tanpa tersisa sedikitpun untuk kita bisa menepis agar history cinta takkan berakhir dan sirna. Hingga tiba di suatu ketika, kita bahkan tidak sempat mengukir kata yg indah untuk menutup buku yg kusam yg sempat terbuka dan menggoreskan tinta warna warni didalam sana.
Dulu, sang fajar terus menyapa ku berulang-ulang serambi memberikan dekapan hangatnya yg perlahan menyentuh lembah ketenangan kalbu ku. "Tapi tidak untuk hari ini" , "kau bukan lagi insan dimasa itu", ucap sang waktu kepadaku.
Hingga waktupun tak lagi sanggup menjawab, apakah akan terasa sama dikala ku tunggu sang senja yg juga kau tunggu. Namun kini kata telah menjadi bukti nyata doa dimasa yg silam, bahwa senja terlalu dini untuk tak sama lagi meski fajar kembali hanya untuk sebuah rasa yang kini kian pergi.
Ruang dan waktu menjadi saksi yg tak bisa menjadi bukti, bahwasanya jangan pernah sekali-kali berharap agar waktu bisa menjawab semua ke gundahan hati. Karena sekali saja tergores oleh tajamnya pisau asmara, lukanya akan tetap tersisa walaupun hanya bekas goresannya tak sedalam ujung tombak yg datang menembus raga sang perkasa, rasa itu takkan pernah lekang oleh waktu meski kau hapus dan bahkan kau musnahkan sekalipun.
Ia kembali duduk di antara pepohonan layu dan memandang sungai yg dulu menjadi aduan rindu seraya memainkan imajinya. "akulah kerasnya sang karang, akulah tajamnya duri, akulah panasnya bara api, akulah dahsyatnya badai".
Sang nirwanapun akan menjadi kelu dikala itu.